Absurd tapi Seru: Kau Memeluk Anakmu, Tapi Menangis Karena Cinta Yang Lain



Kau Memeluk Anakmu, Tapi Menangis Karena Cinta yang Lain

Malam itu, rembulan pucat menggantung di langit Kota Terlarang, serupa keping perak yang jatuh dari surga. Di taman belakang paviliun, Bai Lian memeluk erat putrinya, Xiao Yu. Rambut Xiao Yu yang sehalus sutra mengelitik pipinya. Wangi melati menyeruak, bercampur aroma dupa yang ia bakar diam-diam setiap malam.

"Xiao Yu, anakku…" bisiknya, suaranya tercekat. Air mata menetes tanpa suara, membasahi pipi Xiao Yu yang tertidur lelap. Air mata untuk anak perempuannya, ya, tapi juga air mata untuk cinta yang telah hancur berkeping-keping.

Lima tahun lalu, Bai Lian adalah selir kesayangan Kaisar. Senyumnya mampu menaklukkan hati, kecantikannya membuat para dayang iri. Tapi, kebahagiaannya rapuh seperti keramik porselen dinasti Ming. Ia mencintai seseorang yang SEHARUSNYA TIDAK BOLEH ia cintai: Jenderal Zhao, pahlawan perang yang gagah berani, tangan kanan Kaisar, sahabatnya sendiri.

Mereka saling mencintai dalam diam, dalam tatapan curi, dalam pertemuan singkat di taman rahasia. Mereka tahu, cinta mereka terlarang, berbahaya, MEMATIKAN.

Lalu, segalanya berubah. Kaisar mendadak menjodohkan Jenderal Zhao dengan Putri Mei, adik kesayangannya. Bai Lian hancur. Tapi ia memilih diam. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia tahu RAHASIA. Sebuah rahasia yang bisa menghancurkan seluruh dinasti. Rahasia tentang kelahiran Xiao Yu.

Xiao Yu BUKANLAH putri Kaisar.

Jenderal Zhao tahu rahasia itu. Itulah mengapa ia menerima perjodohan dengan Putri Mei. Untuk melindungi Bai Lian dan Xiao Yu. Untuk memastikan mereka tetap hidup.

Sejak saat itu, Bai Lian hidup dalam kepura-puraan. Melayani Kaisar dengan senyum palsu, membesarkan Xiao Yu dengan cinta yang terpendam. Ia melihat Jenderal Zhao dari kejauhan, di upacara kerajaan, di parade militer. Tatapan mereka bertemu, sekejap saja, cukup untuk menyampaikan rindu yang tak terucap.


Beberapa tahun berlalu. Xiao Yu tumbuh menjadi gadis cantik jelita, mewarisi kecantikan ibunya dan keberanian ayahnya. Tapi ada yang aneh. Setiap malam, Xiao Yu bermimpi tentang seorang pria berbaju zirah, memegang pedang berlumuran darah, memanggilnya dengan nama lain. Nama seorang putri dari kerajaan yang telah lama hilang.

Misteri semakin menguat ketika Bai Lian menemukan sebuah liontin giok di antara mainan Xiao Yu. Liontin itu persis sama dengan yang pernah diberikan Jenderal Zhao padanya dulu. Liontin yang HILANG bertahun-tahun lalu.

Siapa yang menaruh liontin itu di sana? Dan mengapa Xiao Yu bermimpi tentang masa lalu yang bukan miliknya?

Kebenaran terungkap pada ulang tahun Xiao Yu yang ke-16. Saat upacara perayaan, seorang utusan dari kerajaan yang hilang datang, mencari pewaris tahta mereka. Utusan itu mengenali Xiao Yu dari liontin gioknya.

Ternyata, Xiao Yu adalah keturunan terakhir dari dinasti yang digulingkan oleh Kaisar saat ini. Jenderal Zhao, yang setia kepada Kaisar, sebenarnya adalah mata-mata dari kerajaan yang hilang, ditugaskan untuk melindungi Xiao Yu dan membawanya kembali ke tanah airnya. Perjodohannya dengan Putri Mei hanyalah taktik untuk mengelabui Kaisar.

Bai Lian tercengang. Selama ini, ia telah hidup dalam kebohongan yang lebih besar dari yang ia bayangkan. Tapi, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia membiarkan Xiao Yu pergi, kembali ke kerajaan asalnya, menjadi ratu yang akan memimpin rakyatnya menuju kemakmuran.

Balas dendam tanpa kekerasan. Takdir berbalik arah. Kaisar kehilangan selir kesayangannya, putri yang sangat ia cintai, dan sahabatnya yang paling dipercaya. Semua karena cinta terlarang dan rahasia yang tersimpan rapat.

Bai Lian kembali ke paviliunnya, memandang rembulan yang semakin redup. Ia tahu, ia tidak akan pernah melupakan Jenderal Zhao, cinta sejatinya. Ia juga tahu, ia telah melakukan yang terbaik untuk Xiao Yu, putrinya.

Tapi, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya: Apakah Jenderal Zhao mencintainya sebanyak ia mencintainya?

Dan di saat itu, Bai Lian menyadari, ia telah kalah dalam permainan ini, jauh sebelum ia menyadarinya.

... Dan dia membiarkan air matanya tumpah, membasahi sutera jubahnya, merasakan dinginnya malam menusuk tulangnya, menyadari betapa KEKALNYA kesepian...

You Might Also Like: Manfaat Sunscreen Mineral Dengan

Post a Comment

Previous Post Next Post