Aku Jatuh Cinta Pada Dirimu yang Dulu, Tapi Kau Bukan Orang Itu Lagi
Kabut menggantung seperti kain kafan di lereng Gunung Tian Shan. Udara tipis menusuk tulang, membawa serta bisikan-bisikan masa lalu yang terkubur. Xiao Wei, yang dulu dikenal sebagai pangeran yang hilang, berjalan perlahan di antara pepohonan pinus yang menjulang. Sepuluh tahun ia menghilang, dinyatakan tewas dalam pertempuran yang mengkhianati. Sekarang, ia kembali.
Tujuannya: Paviliun Bulan Sabit, tempat dulu ia bersumpah setia pada cintanya, Mei Lin, putri mahkota yang kini memerintah kerajaan dengan tangan besi.
Lorong istana sunyi bagai makam saat ia menyelinap masuk. Obor-obor redup menari di dinding, melukis bayangan aneh yang seolah mengejeknya. Akhirnya, ia menemukan Mei Lin di taman belakang, berdiri membelakangi kolam teratai. Gaun sutra merah menyalanya kontras dengan kesunyian malam.
"Mei Lin..." bisiknya, suaranya serak.
Putri Mahkota berbalik. Matanya, yang dulu penuh cinta, kini sedingin es. "Xiao Wei? Mustahil. Kau seharusnya sudah mati."
"Aku kembali, Mei Lin. Mencari jawaban."
"Jawaban apa? Jawaban atas pengkhianatanmu? Atas kebodohanmu?" Senyum sinis mengembang di bibirnya.
Xiao Wei mendekat, hatinya remuk redam. "Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku dijebak. Siapa yang melakukan ini, Mei Lin?"
Mei Lin tertawa. Tawa itu bergema di taman, memecah kesunyian. "Kau masih sama bodohnya, Xiao Wei. AKU yang melakukannya."
"Kau?!"
"Ya. Aku. Kau pikir aku mencintaimu? Kau hanyalah bidak. Seorang pangeran yang mudah dipengaruhi, idealis, dan MUDAH DIKENDALIKAN. Aku membutuhkan kematianmu untuk mengkonsolidasikan kekuasaanku. Dan lihatlah, rencana itu berhasil sempurna."
"Tapi... semua janji itu? Semua sumpah setia...?" Suara Xiao Wei nyaris tak terdengar.
"Kata-kata kosong belaka. Kau jatuh cinta pada bayangan, Xiao Wei. Pada seorang putri yang tidak pernah ada." Mei Lin melangkah mendekat, matanya berkilat kemenangan. "Kau kembali untuk mencari keadilan? Lucu sekali. Karena yang terjadi adalah... keadilan menemukanmu."
Sebuah pisau perak berkilauan di tangannya. Xiao Wei terpaku, seolah terhipnotis.
"Aku mencintai dirimu yang dulu," bisiknya, "tapi kau BUKAN orang itu lagi. Dan sekarang... kau harus menghilang, untuk selamanya."
Mei Lin menusukkan pisau itu. Bukan pada Xiao Wei. Melainkan pada dirinya sendiri. Ia tersenyum, darah mengalir dari bibirnya.
"Kau... kau bunuh diri?" tanya Xiao Wei, bingung.
Mei Lin terbatuk. "Tidak. Aku hanya memastikan legasi yang sempurna. Seorang putri yang rela mati demi kerajaan... dan seorang pangeran yang gila karena cinta, yang membunuhnya." Ia meraih tangan Xiao Wei dan menaruh pisau berlumuran darah itu di tangannya.
Pengawal berdatangan, wajah mereka terkejut dan ngeri. Mereka melihat Xiao Wei berdiri di atas tubuh Mei Lin, dengan pisau di tangannya.
Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Mei Lin berbisik, "Ingatlah, Xiao Wei... AKU adalah sang Kaisar, dan kau hanyalah karakter dalam dramaku."
Dunia Xiao Wei runtuh. Ia menatap pisau di tangannya, dan kemudian pada tubuh Mei Lin. Akhirnya, ia mengerti. Ia tidak pernah menjadi korban. Ia hanyalah alat. Dan Mei Lin, sejak awal, telah menenun jaring takdirnya sendiri… dengan benang-benang darah.
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Skincare