## Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi Diam-Diam Berharap Kau Terus Melakukannya Hujan malam itu seperti air mata langit, tumpah ruah membasahi Shanghai yang gemerlap. Di balik jendela kafe yang berembun, aku melihatnya. Li Wei, dengan jas abu-abu yang selalu ia kenakan, berdiri di bawah payung hitam, menatapku. Dulu, tatapannya adalah mentari bagiku. Sekarang, hanya pecahan kaca yang melukai. Lima tahun. Lima tahun sejak ia memilih karir, ambisi, dan nama besarnya di hadapan perusahaan keluarga, daripada janji yang terucap di bawah pohon sakura yang mekar sempurna. "Selamanya," bisiknya dulu. Sekarang, kata itu terasa seperti kutukan. Aku mengangkat cangkir teh melati, berusaha menyembunyikan gemetar di tangan. Aku ingat malam itu, malam ia pergi. Kata-katanya bagai pecahan es, menusuk jantungku tanpa ampun. *"Aku… tidak bisa."* Sesederhana itu. Seolah hati yang telah ia curi, bisa ia kembalikan begitu saja. Ia akhirnya masuk, mengguncang payungnya sebelum melangkah mendekat. Aroma parfum pinusnya yang dulu menenangkan, kini hanya membangkitkan kenangan pahit. "Xiao Mei..." suaranya bergetar. Aku membenci bagaimana jantungku masih berdebar mendengar namanya. Aku menatapnya dingin. "Kau menyuruhku berhenti menatapmu di pesta reuni bulan lalu, Li Wei. Jadi, apa yang membawamu ke sini?" Wajahnya pucat. "Aku… aku ingin menjelaskan." Penjelasan? Setelah lima tahun? Aku tertawa sinis, meski hatiku hancur berkeping-keping. "Penjelasan untuk apa? Untuk janji yang kau ingkari? Untuk mimpi yang kau hancurkan? Untuk **_CINTA_** yang kau campakkan?!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Aku memaksa diri untuk tetap tegar. "Pergi, Li Wei. Pergi dan jangan pernah kembali." Ia meraih tanganku, tapi aku menariknya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" Suaraku bergetar, dipenuhi amarah dan sakit yang tak terperi. "Aku menyuruhmu berhenti menatapku, tapi *DIAM-DIAM* berharap kau terus melakukannya. Tapi aku bodoh. Aku selalu bodoh." Li Wei terdiam, matanya dipenuhi penyesalan. Ia membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang keluar. Beberapa minggu kemudian, aku menerima tawaran pekerjaan yang *sempurna*. Posisi tinggi di perusahaan yang sedang berkembang pesat, kantor cabang di Shanghai. Aku menerima dengan senang hati. Tentu saja, aku tahu siapa pemilik mayoritas saham perusahaan itu. Ya, Li Wei. Aku melihatnya untuk pertama kali di ruang rapat, saat rapat perkenalan dengan karyawan baru. Matanya membelalak kaget, nyaris tak percaya. Aku tersenyum manis, senyum yang telah kulatih di depan cermin. Senyum yang menawan, namun dinginnya menusuk tulang. Saat mata kami bertemu, aku melihat penyesalan, kebingungan, dan… ketakutan? Yang terakhir itu membuatku puas. Ia pasti menyadari, ini bukan hanya kebetulan. Ini adalah takdir. Aku tahu aku harus profesional. Aku akan melakukan pekerjaanku dengan baik. Aku akan membuat perusahaannya semakin sukses. Tapi setiap tatapan, setiap pujian, setiap senyum yang kuberikan padanya, akan menjadi pengingat. Pengingat tentang apa yang telah ia hilangkan. Pengingat tentang kekuatan yang telah ia berikan padaku. Pengingat bahwa aku sekarang memegang kendali. Dan aku akan memainkannya dengan **SANGAT** baik. *Cinta yang mati, terkadang bersemi kembali dalam bentuk yang jauh lebih berbahaya.*
You Might Also Like: Drama Populer Rahasia Yang Menghidupkan