Baik, ini dia kisah dracin emosional berjudul "Aku Mencintaimu dengan Kejujuran, dan Dibalas dengan Keindahan Dusta": **Aku Mencintaimu dengan Kejujuran, dan Dibalas dengan Keindahan Dusta** Embun pagi merayap di kelopak *Peony* yang merekah. Aroma tanah basah menyusup ke indera penciumanku, mengingatkanku pada hari saat aku pertama kali melihatnya. Xiao Zhan, seorang pria dengan senyum semanis madu dan mata seteduh danau di musim semi. Aku, Lin Wei, jatuh cinta tanpa syarat. Aku mencintainya dengan kejujuran yang membara, seolah api unggun di tengah badai salju. Namun, Xiao Zhan hidup dalam dunia yang berbeda. Dunia yang dibangun dari kerlap-kerlip kemewahan dan bisikan **dusta**. Ia adalah pewaris tunggal Keluarga Zhao, sebuah dinasti bisnis yang kekayaannya tak terukur. Sejak awal, aku tahu jurang memisahkan kami, tetapi cinta terkadang membutakan. "Lin Wei," bisiknya suatu malam di bawah rembulan yang pucat. "Aku... aku mencintaimu lebih dari apapun." Kata-kata itu terasa bagai _candu_. Aku menenggelamkan diri di dalamnya, mengabaikan bisikan hati yang cemas. Aku percaya pada kejujurannya, meskipun setiap gerak-geriknya dipenuhi dengan misteri. Pertemuan rahasia, panggilan telepon tersembunyi, dan ekspresi khawatir yang sekilas terpancar di matanya. Aku mencoba memaklumi. Aku mencoba percaya. Namun, benih keraguan mulai tumbuh subur. Aku mulai mencari kebenaran. Mencari tahu mengapa Xiao Zhan seringkali menghilang tanpa jejak. Mengapa ia selalu menghindar saat aku bertanya tentang keluarganya. Pencarianku membawaku pada sebuah rahasia. Rahasia yang begitu gelap, begitu **MENGERIKAN**, hingga meremukkan hatiku menjadi berkeping-keping. Xiao Zhan dijodohkan dengan putri Keluarga Li, aliansi bisnis yang akan menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan. Pernikahan itu adalah fondasi dinastinya. Dan aku? Aku hanyalah keindahan dusta, pelipur lara di tengah ambisi kejamnya. _Betapa bodohnya aku._ Kemarahan membakar seluruh sendi-sendiku. Cinta yang dulu membara kini menjadi abu yang pahit. Aku telah dibutakan oleh ilusi, dipermainkan oleh janji-janji palsu. Puncak dari kebohongan ini adalah pesta pertunangannya. Aku menyaksikannya dari kejauhan, berdiri di antara bayangan. Xiao Zhan tampak bahagia, mengenakan setelan sutra yang berkilauan, senyum terpahat di wajahnya. Ia melangkah maju menuju altar, siap mengkhianati cintaku demi kekayaan dan kekuasaan. Saat itulah aku memutuskan untuk membalas dendam. Bukan dengan amarah membabi buta, bukan dengan air mata yang memelas. Tapi dengan senyum yang tenang, dengan rencana yang terukur. Aku menggunakan informasi yang aku kumpulkan selama pencarianku, informasi yang Xiao Zhan sendiri tidak sadar telah aku dapatkan. Aku mengungkap praktik bisnis kotor Keluarga Zhao, praktik yang selama ini ditutupi dengan uang dan kekuasaan. Aku membocorkan skandal itu ke media, menghancurkan reputasi mereka dalam semalam. Xiao Zhan kehilangan segalanya: perusahaan, kekayaan, dan yang terpenting, _kebebasannya_. Ia terjerat dalam jaringan kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Beberapa bulan kemudian, aku menemuinya di penjara. Ia menatapku dengan mata yang redup, penuh penyesalan. "Lin Wei," bisiknya lirih. "Maafkan aku." Aku tersenyum. Senyum yang tidak mencapai mata. Senyum yang menyimpan perpisahan abadi. "Kau memilih dinasti dusta, Xiao Zhan. Sekarang hiduplah dengannya." Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Xiao Zhan dalam kehancurannya. Balas dendamku telah usai. Tenang. Menghancurkan. Apakah ia akan pernah benar-benar menyesali perbuatannya, atau justru merencanakan pembalasan?
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Tanpa Stok