Drama Seru: Kau Menatapku Tanpa Takut, Padahal Semua Orang Menunduk Di Hadapanku



Kau Menatapku Tanpa Takut, Padahal Semua Orang Menunduk di Hadapanku

Lentera-lentera kertas berayun pelan di koridor Istana Timur, menari mengikuti irama angin malam. Namun, di balik keindahan itu, tersembunyi aroma pengkhianatan dan kekuasaan yang membusuk. Mei Lan, dengan gaun sutra berwarna rembulan, berdiri di balkon kamarnya. Matanya, sekelam obsidian, menatap hamparan kota terlarang. Dulu, mata itu penuh tawa. Dulu, hati itu dipenuhi mimpi tentang cinta abadi. Dulu…sebelum Kaisar yang dicintainya, Wei Long, merebut segalanya darinya.

Wei Long. Nama itu seperti duri yang menghujam jantungnya setiap detik. Ia, yang dulu adalah selir kesayangan, dijebak dan dituduh melakukan pengkhianatan. Gelar, kehormatan, bahkan kebebasannya dirampas. Ia menyaksikan ibunya dieksekusi di depan matanya, dituduh bersekongkol melawan Kaisar. Dihancurkan. Hancur berkeping-keping.

Namun, di reruntuhan hatinya, tumbuh bunga. Bunga dendam. Bukan dendam yang membabi buta, tapi dendam yang terencana, terukur, dan mematikan. Ia belajar. Ia mengamati. Ia merencanakan. Ia menjadi bayangan di balik tirai kekaisaran, memanipulasi benang-benang kekuasaan dengan KEHALUSAN seorang penari dan KETEPATAN seorang pembunuh.

Bertahun-tahun berlalu. Mei Lan, dengan identitas baru sebagai Nyonya Besar di kediaman Perdana Menteri, berhasil mengumpulkan sekutu. Ia menabur benih keraguan di hati para pejabat istana, menciptakan perpecahan yang nyaris tak terlihat. Wei Long, yang kini semakin renta dan paranoid, tak menyadari bahwa kematiannya sudah diketokkan dari dalam.

Malam itu, ketika Wei Long merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya, Mei Lan muncul di hadapannya. Tidak dengan pedang terhunus, tidak dengan amarah membara. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang tak pernah dilihat Wei Long sebelumnya. Senyum seorang Ratu.

"Kau…kau?" Wei Long terbatuk, matanya memancarkan ketakutan yang telat.

Mei Lan mendekat, berlutut di samping ranjang Kaisar yang sekarat. Ia menyentuh pipi Wei Long dengan lembut. "Aku adalah bayangan dari wanita yang kau hancurkan, Kaisar," bisiknya. "Aku adalah konsekuensi dari setiap pengkhianatanmu."

Kemudian, ia berdiri dan membalikkan badan. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. Seorang Jenderal gagah berani, yang telah dia manfaatkan demi rencananya, sudah menunggu dengan pedang terhunus, sementara kasim-kasim ketakutan menundukkan kepala dalam-dalam.

"Eksekusi," perintah Mei Lan, suaranya setenang desiran angin malam.

Ia keluar dari kamar itu, meninggalkan Wei Long pada takdirnya. Di koridor, ia berpapasan dengan seorang pemuda tampan, jendral kepercayaan Wei Long, yang menatapnya dengan pandangan penuh benci dan ketakutan. Itulah, pandangan yang dinantinya. Pandangan yang menunduk di hadapannya. Tapi, ia membalasnya dengan tatapan teguh, tanpa rasa takut.

Mei Lan berjalan terus, meninggalkan Istana Timur. Cahaya bulan menerangi wajahnya. Wajah seorang wanita yang telah bangkit dari abu, bukan dengan amarah, tapi dengan ketenangan yang lebih mematikan dari racun.

Dan ia tahu... akhirnya, kekuasaan sejati adalah ketika aku tidak membutuhkan Kaisar untuk menjadi Ratu.

You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Peluang Usaha

Post a Comment

Previous Post Next Post