Aku Mencintaimu Dalam Kebisuan, Tapi Kebisuan Itu Menjerit
Hujan kota seperti air mata langit yang tumpah. Jendela apartemenku berembun, setiap tetesnya mencerminkan notifikasi yang tak pernah datang. Dulu, ponselku bergetar tak henti, setiap getarannya adalah janji, tawa, dan aroma kopi virtual yang dikirimkan dia. Sekarang? Sepi. Kosong. Sama seperti hatiku.
Aku mengenalnya dari dunia maya. Sebuah aplikasi berbagi mimpi. Awalnya, hanya komentar, lalu DM, kemudian obrolan larut malam yang membahas segala hal, dari film klasik hingga teori konspirasi konyol. Namanya Kai. Absurd, misterius, dan membuatku terjebak dalam pusaran rasa ingin tahu.
Kai adalah seniman. Kata-katanya adalah lukisan, idenya adalah patung. Dia melihat dunia dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dia membuatku merasa… dilihat. Dan itu, sungguh, terasa seperti keajaiban.
Tapi, seperti semua keajaiban, ini pun sementara.
Semuanya dimulai dengan hilangnya notifikasi. Obrolan yang semakin jarang. Alasan yang terdengar semakin hambar. Aku mencoba, tentu saja. Aku mengirim pesan. Panjang, jujur, dan penuh kerinduan. Tapi, pesan-pesan itu kini hanya sisa teks abu-abu di layar, belum terkirim.
Mimpi kami dulu saling bertautan. Sekarang? Aku hanya mimpi buruk yang tak bisa kuhapus.
Aku mencarinya. Kehidupan onlinenya menghilang. Akun Instagramnya dihapus. Nomor teleponnya tak aktif. Seolah-olah dia tidak pernah ada. Tapi dia ada. Aku tahu itu. Aku merasakan kehadirannya, bayangannya, dalam setiap sudut kota ini. Dalam setiap aroma kopi yang menyengat, dalam setiap lagu melankolis yang diputar di radio.
Lalu, aku menemukannya. Bukan Kai yang kukenal, melainkan sebuah nama lain. Sebuah identitas lain. Sebuah kehidupan yang dia sembunyikan.
Dia adalah pewaris sebuah perusahaan besar. Hidupnya diatur, dikendalikan, dan ditentukan oleh orang lain. Kehidupan maya, denganku, adalah pelariannya. Sebuah kesalahan yang harus dia hapus.
Kebisuan ini akhirnya memiliki suara. Suara pengkhianatan. Suara kebohongan. Suara patah hati yang paling menyakitkan.
Aku tidak marah. Aku kecewa. Sangat kecewa.
Aku menulis pesan terakhir untuknya. Sebuah pesan sederhana, tanpa air mata, tanpa amarah.
"Aku mengerti. Selamat tinggal, Kai."
Aku tidak menunggunya membaca. Aku memblokir nomornya. Menghapus semua fotonya. Membuang semua kenangan tentangnya ke dalam tong sampah digital.
Aku kembali ke kehidupan nyataku. Mencari kebahagiaan di tempat lain. Menemukan diriku yang baru.
Setahun kemudian, aku menghadiri sebuah pameran seni. Di sana, di tengah kerumunan orang, aku melihatnya. Dia berdiri di depan sebuah lukisan abstrak yang familiar. Lukisan yang pernah dia tunjukkan padaku, lukisan tentang mimpi yang hilang.
Dia menatapku. Matanya dipenuhi penyesalan.
Aku memberinya senyum terakhirku. Senyum yang hambar, datar, dan palsu. Senyum yang mengatakan segalanya tanpa kata.
Aku berbalik dan pergi. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
Aku meninggalkan masa lalu di belakangku. Meninggalkan dia di belakangku.
Aku memilih diriku sendiri.
Dan itu adalah balas dendamku yang paling lembut.
Pintu lift tertutup. Meninggalkan aku sendirian, kosong, namun... puas.
You Might Also Like: White Oak Animal Safe Haven Facebook 11