Janji yang Kucuri dari Bibir Musuh
Malam itu, salju turun seperti serpihan kaca di atas Kota Terlarang. Dinginnya menusuk tulang, seolah mencerminkan hati Xiao Mei yang membeku. Di Aula Keagungan, aroma dupa melayang, bercampur dengan bau anyir darah yang memuakkan. Di hadapannya, berlututlah Li Wei, Jenderal Agung yang dulu dicintainya, kini terikat dan babak belur. Wajahnya, yang dulu memancarkan ketegasan seorang prajurit, kini dipenuhi luka dan keputusasaan.
"Katakan, Li Wei," desis Xiao Mei, suaranya serendah desiran angin malam. Gaun merahnya yang berkibar kontras dengan salju putih di luar jendela, bagaikan bunga mawar yang tumbuh di atas makam. "Di mana surat itu? Surat wasiat ayahku!"
Li Wei terbatuk, ludahnya berwarna merah. "Aku... tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Xiao Mei tertawa sinis. Tawa tanpa kehangatan, hanya gema kosong di dalam ruangan yang luas. "Kebohonganmu memuakkan, Li Wei. Kita berdua tahu kau menyembunyikannya. Surat yang membuktikan bahwa kau dan keluargamu adalah pengkhianat!"
Lima tahun lalu, keluarga Xiao Mei dihancurkan oleh tuduhan palsu. Ayahnya, seorang laksamana yang disegani, dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan. Xiao Mei, yang lolos dari pembantaian, bersumpah akan membalas dendam. Dia menyusup ke istana, membaur di antara para selir, menunggu waktu yang tepat untuk menuntut keadilan. Dan Li Wei, cinta pertamanya, ternyata adalah dalang di balik semua ini.
"Dulu, aku mencintaimu dengan segenap hatiku," kata Xiao Mei, air mata menetes di pipinya, membeku seketika. "Dulu, aku percaya padamu. Tapi kau... kau memilih kekuasaan daripada cinta, kehormatan daripada kebenaran."
Li Wei mendongak, matanya memancarkan penyesalan. "Xiao Mei... aku... aku melakukan apa yang harus kulakukan."
"Apa yang harus kau lakukan?" Xiao Mei mencengkeram kerah jubahnya. "Membiarkan ayahku mati? Mengkhianati keluargaku? Kau pikir kata-kata 'harus kulakukan' bisa menghapus dosa-dosamu?"
Di tengah pertengkaran yang membara, rahasia lama terkuak. Ternyata, Li Wei hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar. Kekuatan gelap yang tersembunyi di balik tahta, yang menginginkan kekuasaan mutlak, telah memanipulasi dirinya. Surat wasiat itu adalah bukti yang bisa menjatuhkan mereka semua.
Xiao Mei mencabut belati dari balik jubahnya. Cahaya perak memantul dari bilah tajam itu. "Aku datang bukan hanya untuk mencari keadilan. Aku datang untuk membalas dendam."
Li Wei menutup matanya. "Lakukanlah."
Xiao Mei menusukkan belati itu. Bukan ke jantung Li Wei, melainkan ke tali yang mengikatnya. Dia menarik Li Wei berdiri.
"Aku tidak akan membunuhmu begitu saja," bisik Xiao Mei di telinga Li Wei. "Kematian terlalu mudah untukmu. Kau akan hidup, Li Wei. Kau akan melihat kehancuran orang-orang yang telah memanipulasimu. Dan kau akan membantu menghancurkan mereka."
Xiao Mei membawa Li Wei bersamanya. Bersama, mereka menyusuri lorong-lorong istana yang gelap dan berbahaya, seperti hantu yang mencari kedamaian abadi. Mereka meninggalkan jejak darah dan air mata di belakang mereka, janji di atas abu, kesepakatan yang ditorehkan di atas puing-puing masa lalu.
Waktu berlalu. Kekuatan gelap yang tersembunyi di balik tahta akhirnya terungkap. Istana terguncang oleh pengkhianatan dan intrik. Di tengah kekacauan itu, Xiao Mei dan Li Wei berdiri, bahu membahu, menghadapi musuh-musuh mereka.
Pada akhirnya, Xiao Mei berhasil membalas dendam. Balas dendam yang tenang namun mematikan. Para pengkhianat dijatuhi hukuman mati. Keluarga Xiao Mei dipulihkan namanya. Tapi kemenangan itu terasa pahit. Terlalu banyak yang telah hilang. Terlalu banyak yang telah dikorbankan.
Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, Xiao Mei berdiri di puncak menara tertinggi di Kota Terlarang. Di sampingnya, berdiri Li Wei. Mereka saling berpandangan. Tidak ada cinta di mata mereka, hanya penyesalan dan kelelahan.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Li Wei.
Xiao Mei menatap jauh ke cakrawala. "Aku akan pergi. Meninggalkan tempat ini. Mencari kedamaian."
Dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Li Wei di belakangnya.
"Xiao Mei..." panggil Li Wei.
Xiao Mei berhenti, tapi tidak menoleh.
"Apakah kau... pernah mencintaiku?"
Xiao Mei terdiam sejenak. Lalu, tanpa menoleh, dia menjawab:
"Pertanyaan itu... takkan pernah terjawab."
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Untuk