Ia Menyebut Namaku Di Komentar Lama Yang Viral Lagi



Ia Menyebut Namaku Di Komentar Lama Yang Viral Lagi

Embun pagi merayap di kelopak lotus di Danau Barat, sama halnya dengan kebohongan yang menyelimuti kehidupan Lin Wei. Lima tahun lalu, ia adalah gadis biasa dengan mimpi besar, seorang penulis pemula yang karyanya dipuji oleh seorang netizen misterius bernama "ShadowHunter". Komentar-komentar ShadowHunter, puitis dan tajam, menginspirasinya, membantunya menemukan suaranya. Namun, Lin Wei, dalam ambisinya yang membara, mengaku sebagai pemilik komentar-komentar itu, mencuri identitas ShadowHunter. Kebohongan itu membawanya ke puncak popularitas, menjadikannya penulis terkenal dengan jutaan pengikut.

Sementara itu, di sudut kota yang remang-remang, Jiang Cheng hidup dalam kesunyian. Ia adalah ShadowHunter yang sebenarnya, seorang pemuda berbakat yang kehilangan suaranya karena penyakit langka. Ia menyaksikan Lin Wei meraih pujian yang seharusnya menjadi miliknya, merasakan pahitnya pengkhianatan merambat di hatinya seperti racun. Ia tidak bisa bicara, tidak bisa berteriak, hanya bisa menyimpan dendam dalam diam.

Lima tahun berlalu. Sebuah platform media sosial populer, "Echo", menemukan kembali komentar-komentar lama ShadowHunter. Komentar-komentar itu menjadi viral, memicu gelombang nostalgia dan kekaguman. Lin Wei, yang selama ini hidup dalam ketakutan terungkap, semakin tertekan. Ia berusaha mati-matian mempertahankan kebohongannya, menyewa buzzer untuk menutupi jejak, dan memanipulasi narasi publik.

Namun, Jiang Cheng tidak tinggal diam. Dengan bantuan seorang teman yang ahli teknologi, ia diam-diam mengumpulkan bukti. Ia meretas akun Echo, mengungkap timeline komentar yang sebenarnya, dan meninggalkan petunjuk yang mengarah pada kebenaran. Ia seperti hantu yang bergentayangan di dunia maya, menghantui Lin Wei dengan bayangan masa lalu.

Konflik memuncak saat sebuah acara penghargaan sastra bergengsi memberikan Lin Wei penghargaan atas "karya-karyanya yang terinspirasi dari komentar ShadowHunter." Jiang Cheng, dengan kursi roda yang didorong oleh temannya, muncul di tengah kerumunan. Ia mengangkat sebuah papan bertuliskan: "AKU SHADOWHUNTER!"

Keheningan mencekam. Lin Wei pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya. Ia mencoba mengelak, menyangkal, namun bukti tak terbantahkan terungkap di layar lebar di belakangnya. Chat history, metadata, semua menunjuk pada Jiang Cheng sebagai ShadowHunter yang asli.

Lin Wei runtuh. Kebohongannya hancur berkeping-keping, popularitasnya menguap, digantikan oleh cemoohan dan kebencian. Ia kehilangan segalanya.

Jiang Cheng menatap Lin Wei dengan tatapan dingin. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih tajam dari belati. Senyum itu adalah balas dendamnya. Ia telah merebut kembali identitasnya, menghancurkan kehidupan Lin Wei tanpa mengangkat satu jari pun.

Lalu, Jiang Cheng berbalik dan pergi, meninggalkan Lin Wei terkapar dalam reruntuhan kebohongannya. Temannya menyerahkan sebuah kertas kecil ke salah satu jurnalis yang hadir. Di sana tertulis: "Semoga kebohonganmu menjadi kisah yang abadi, Wei. Karena sejarah, lebih kejam dari apapun."

Dan ketika senja tiba, hanya ada satu pertanyaan yang menggantung di udara: apakah kebenaran benar-benar membebaskan, atau justru memenjarakan?

You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Modal

Post a Comment

Previous Post Next Post