Cinta yang Menjadi Perang Dingin
Musim semi di kota Nanjing merekah dengan aroma bunga mei, sama seperti seratus tahun lalu. Jiang Li, pewaris tunggal Grup Jiang yang disegani, berdiri di bawah pohon itu, merasakan getaran aneh yang menusuk tulang. Ia merasa seperti pernah berada di sana, di bawah naungan kelopak merah muda yang berguguran.
Saat itulah, ia melihatnya.
Zhang Wei, seorang pelukis muda dengan mata setajam elang dan bibir yang menyimpan senyum misterius. Pertemuan pandang mereka berlangsung terlalu lama, terlalu intens. Sebuah déjà vu yang kuat menghantam Jiang Li. Suara itu… suara bariton rendah yang mengalun lembut saat Zhang Wei menyapanya, terasa familier, bagaikan gema dari masa lalu yang jauh.
"Nona Jiang," sapa Zhang Wei, suaranya membuat bulu kuduk Jiang Li meremang. "Apakah Nona menyukai lukisan plum blossom?"
Malam itu, Jiang Li bermimpi. Ia melihat dirinya, bukan dirinya yang sekarang, melainkan seorang wanita berpakaian cheongsam sutra merah, berdiri di tengah medan perang. Di depannya, seorang jenderal gagah berani – wajahnya kabur, namun auranya sangat familiar – berlutut di hadapannya. Kata-kata yang diucapkannya menggema dalam benaknya: "Aku bersumpah, jiwaku akan selalu mencarimu, walau harus menembus neraka sekali pun."
Mimpi itu berulang setiap malam, semakin jelas, semakin mengerikan. Jiang Li mulai menyelidiki masa lalunya, mencari petunjuk tentang identitas wanita dalam mimpinya. Ia menemukan catatan sejarah yang tersembunyi, kisah cinta tragis antara seorang putri dari Dinasti Ming yang jatuh ke tangan Kaisar Manchuria, dan seorang jenderal pemberontak yang mati melindunginya. Nama sang jenderal… Zhang Long.
Dan Zhang Wei… wajahnya mulai berubah dalam benaknya. Bukan lagi wajah pelukis muda yang ramah, melainkan wajah jenderal Zhang Long yang penuh luka dan dendam.
Benarkah Zhang Wei adalah reinkarnasi dari Zhang Long? Apakah ia datang untuk menuntut balas atas kematiannya, atas pengkhianatan yang dilakukan sang putri yang jatuh ke tangan musuh?
Jiang Li menemukan jawaban saat ia menemukan lukisan tersembunyi di balik lukisan lain di galeri Zhang Wei. Sebuah potret dirinya, mengenakan cheongsam merah, dengan mata yang penuh air mata. Di belakang lukisan itu, tertulis sebuah janji: "Akan kubuat kau merasakan sakitnya kehilangan yang abadi."
Maka dimulailah perang dingin di antara mereka.
Zhang Wei tidak menunjukkan kebencian atau kemarahan. Ia bersikap sopan, ramah, bahkan penuh perhatian. Namun, tatapannya selalu menyimpan jarak, sebuah kekosongan yang lebih menyakitkan daripada caci maki. Ia membangun tembok es di antara mereka, membuat Jiang Li merasa terisolasi dan bersalah atas dosa yang bahkan tidak ia lakukan.
Jiang Li tidak membalas dengan kemarahan. Ia memilih keheningan. Ia membiarkan Zhang Wei melihat kesedihan di matanya, merasakan penyesalan yang mendalam atas takdir mereka yang malang. Ia menunjukkan kepadanya bahwa cinta bisa menjadi pengampunan, bahwa masa lalu tidak harus mengendalikan masa depan.
Pada akhirnya, Zhang Wei menyerah. Es di hatinya mencair, digantikan oleh kebingungan dan kelelahan. Ia melihat bayangan sang jenderal di mata Jiang Li, namun ia juga melihat harapan untuk awal yang baru.
"Aku… aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan," bisik Zhang Wei, suaranya bergetar.
Jiang Li meraih tangannya, jemarinya dingin namun mantap. "Lepaskan," katanya. "Lepaskan dendam itu. Bebaskan kita berdua."
Zhang Wei menatapnya, air mata mengalir di pipinya. Ia melihat refleksi masa lalunya di mata Jiang Li, dan ia melihat kesempatan untuk masa depan yang lebih baik.
Ia menggenggam tangannya erat. "Aku… aku akan mencoba."
Musim semi berganti musim panas. Bunga mei berguguran, meninggalkan aroma manis yang menggantung di udara. Zhang Wei dan Jiang Li berjalan berdampingan di taman, keheningan di antara mereka bukan lagi perang, melainkan kedamaian.
Namun, di suatu malam yang sunyi, saat Jiang Li terlelap, ia mendengar bisikan samar, seperti angin yang berhembus dari masa lalu: "Ingatlah… janji… darah… abadi…"
You Might Also Like: Jualan Skincare Bimbingan Bisnis Online