Cerpen Keren: Kau Tersenyum Di Balkon Istana, Tapi Matamu Menyembunyikan Duka



Bab 1: Bunga Teratai yang Bersemi Kembali

Langit senja membias jingga di atas Danau Barat, memantul di mata Liu Qing, sang putri mahkota. Ia berdiri di balkon istana, angin lembut membelai sutra gaunnya, tapi senyum di bibirnya terasa hambar. Seratus tahun. Seratus tahun telah berlalu sejak janji itu diucapkan, sejak darah mengalir di paviliun persik, sejak jiwanya terkoyak.

Ia merasakan deja vu yang menyakitkan setiap kali menatap danau. Seolah ada kepingan memori yang berusaha muncul ke permukaan, bayangan seorang pria dengan jubah putih dan senyum teduh yang menghantui mimpinya.

Di seberang danau, berdiri Wei Jun, seorang cendekiawan muda yang baru saja tiba di istana. Ia ditunjuk menjadi penasihat Putri Mahkota, sebuah kehormatan sekaligus beban. Matanya terpaku pada sosok Liu Qing di kejauhan. Jantungnya berdebar kencang, sebuah irama familiar yang membuatnya bingung. Rasanya seperti… pulang.

"Dia cantik," bisik seorang pelayan di sampingnya. "Tapi mereka bilang, dia selalu tampak sedih."

Wei Jun hanya mengangguk, matanya tak lepas dari Liu Qing. Ia merasakan ikatan yang tak bisa dijelaskan, sebuah benang takdir yang terentang melintasi waktu. Malam itu, ia bermimpi. Mimpi tentang pedang berlumuran darah, tangisan putus asa, dan janji yang terucap di bawah pohon teratai yang sedang bersemi.

Bab 2: Bisikan dari Kehidupan Lampau

Hari-hari berikutnya, Liu Qing dan Wei Jun semakin dekat. Diskusi mereka tentang puisi, seni, dan filosofi terasa bagai percakapan yang telah lama tertunda. Wei Jun memperhatikan betapa cerdas dan berpengetahuan Liu Qing, tetapi ia juga melihat kesedihan mendalam yang tersembunyi di balik senyumnya.

Suatu sore, mereka berjalan di taman istana. Liu Qing berhenti di depan kolam teratai, air matanya mengalir tanpa disadarinya.

"Ada apa, Putri?" tanya Wei Jun khawatir.

"Aku… aku tidak tahu," jawab Liu Qing, suaranya bergetar. "Rasanya seperti aku pernah berdiri di sini sebelumnya. Aku melihat… darah… dan mendengar… sumpah."

Wei Jun meraih tangannya. "Sumpah apa?"

Liu Qing menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku bersumpah, rohku akan kembali untuk membalas dendam, walau seratus tahun telah berlalu!"

Kata-kata itu menggema di benak Wei Jun. Ia merasakan sakit yang tajam, sebuah memori yang mendobrak benteng kesadarannya. Ia melihat dirinya sendiri, berlumuran darah, menggenggam pedang yang patah, dan menatap wanita yang dicintainya, wanita yang ia khianati.

Bab 3: Kebenaran yang Terungkap

Malam-malam berikutnya, mimpi-mimpi Wei Jun semakin jelas. Ia adalah seorang jenderal yang mengkhianati kekaisaran, demi cinta buta pada seorang selir. Selir itu, yang diperankan oleh Liu Qing di kehidupan sebelumnya, adalah mata-mata dari kerajaan musuh. Pengkhianatannya menyebabkan kehancuran kekaisaran dan kematian banyak orang tak bersalah. Di hadapan eksekusi, Liu Qing bersumpah akan kembali untuk membalas dendam.

Wei Jun menyadari, ia adalah reinkarnasi dari jenderal pengkhianat. Ia telah dikirim kembali untuk menebus dosanya. Tugasnya bukan untuk mengulang kesalahan masa lalu, tetapi untuk membantu Liu Qing melepaskan dendamnya.

Ia menceritakan semuanya pada Liu Qing. Awalnya, sang putri tidak percaya. Namun, semakin Wei Jun menceritakan detail masa lalu, semakin besar keraguan di hatinya. Ia mulai mengingat fragmen-fragmen memori yang terpendam, wajah-wajah yang terlupakan, dan aroma darah di paviliun persik.

Bab 4: Keheningan yang Membalas Dendam

Liu Qing berhadapan dengan kenyataan pahit. Ia telah menghabiskan seratus tahun untuk merencanakan pembalasan dendam, hanya untuk mengetahui bahwa pria yang ia cintai dan benci, telah kembali untuk menebus dosanya.

Alih-alih amarah, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Kebenciannya selama ini telah meracuni jiwanya, membutakannya dari keindahan dunia. Ia menyadari, membalas dendam tidak akan membawa kedamaian, hanya siklus kekerasan yang tak berujung.

Ia menemui Wei Jun di balkon istana. Senja kembali mewarnai langit. Liu Qing menatap Wei Jun dengan tatapan penuh kasih.

"Kau telah membayar hutangmu," ucapnya pelan. "Dendamku… telah berakhir."

Ia membalikkan badan dan berjalan masuk ke istana, meninggalkan Wei Jun berdiri terpaku di balkon. Pembalasan dendamnya bukan dengan kemarahan atau kekerasan, melainkan dengan pengampunan. Pengampunan yang membungkam, pengampunan yang meremukkan, pengampunan yang lebih menyakitkan dari kematian itu sendiri.

Epilog

Bunga teratai di Danau Barat mekar dengan sempurna. Putri Mahkota Liu Qing tidak lagi tampak sedih. Ia memerintah dengan bijaksana dan adil, membawa kedamaian bagi kerajaannya. Wei Jun tetap berada di sisinya, menjadi penasihat yang setia. Namun, ada jarak di antara mereka, sebuah kesedihan abadi yang tak terucapkan.

Di suatu malam yang sunyi, saat bulan purnama bersinar terang, Liu Qing berdiri di balkon istana. Ia menatap danau, dan samar-samar mendengar bisikan dari angin…

"Teratai itu… telah bersemi terlalu lambat…"

You Might Also Like: 14 Discover Your Ancestral Path Premier

Post a Comment

Previous Post Next Post