Baiklah, inilah kisah dracin tragis berjudul "Bayangan yang Membawa Aroma Darah": **Bayangan yang Membawa Aroma Darah** (Adegan 1: Lembah Kabut, masa kecil) "Xiao Lan! Tunggu aku!" teriak Bai Lian, napasnya tersengal. Xiao Lan, dengan lincah memanjat pohon persik, tertawa renyah. "Lambat sekali, Lian! Kau seperti kura-kura!" Balas Xiao Lan, melempar buah persik matang ke bawah. Persahabatan mereka, sedalam sungai yang mengalir di lembah itu, tak tersentuh oleh dunia luar yang keras. Mereka bersumpah, di bawah pohon persik yang sama, untuk selalu bersama, melindungi satu sama lain dari segala bahaya. Namun, di balik senyum polos dan janji setia, tersembunyi benih kebencian yang perlahan tumbuh. (Adegan 2: Istana Kaisar, 15 tahun kemudian) Xiao Lan, kini dikenal sebagai Jenderal Xiao, berdiri gagah di hadapan Kaisar. Bai Lian, berpakaian sutra halus, tersenyum lembut dari samping. Mereka telah mencapai puncak kekuasaan, bahu membahu, seperti yang mereka janjikan. "Jenderal Xiao," titah Kaisar, suaranya menggema di aula megah, "Rencanakan penyerangan ke wilayah Yue. Kemenangan ada di tanganmu." Xiao Lan membungkuk hormat. Matanya bertemu dengan tatapan Bai Lian. Sebuah senyuman misterius tersungging di bibir Bai Lian. Saat itulah, keraguan mulai merayapi benak Xiao Lan. *Mengapa Lian tersenyum seperti itu?* (Adegan 3: Malam sebelum pertempuran) Xiao Lan dan Bai Lian duduk berhadapan di paviliun pribadi mereka. Aroma melati memenuhi udara, namun ketegangan terasa begitu pekat. "Lian, aku merasa ada yang tidak beres," ucap Xiao Lan, memecah keheningan. "Tidak beres? Apa maksudmu, Xiao?" Bai Lian bertanya, matanya memancarkan kepolosan yang dibuat-buat. "Aku... aku tidak tahu. Perasaan ini... seperti ada bayangan yang mengikuti kita, Lian. Bayangan yang membawa aroma darah." Bai Lian tertawa pelan, *nada suaranya dingin*. "Kau terlalu lelah, Xiao. Tidurlah. Besok adalah hari yang penting." (Adegan 4: Medan Perang) Pertempuran dimulai. Namun, sesuatu terjadi. Pasukan Xiao Lan terjebak dalam penyergapan. Mereka dikepung dan dibantai. Xiao Lan, dengan pedang di tangannya, berjuang dengan gagah berani, tetapi semuanya sia-sia. Di tengah kekacauan, dia melihatnya. Bai Lian, berdiri di puncak bukit, menyaksikan pembantaian itu dengan senyum sinis. **"LIAN! MENGAPA?!"** teriak Xiao Lan, suaranya pecah. Bai Lian tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada pasukan musuh. Panah-panah beterbangan, menghujani Xiao Lan. (Adegan 5: Di ambang kematian) Xiao Lan terbaring di tanah, darah mengalir dari lukanya. Bai Lian mendekat, wajahnya tanpa ekspresi. "Kau... KAU PENGKHIANAT!" desis Xiao Lan, napasnya tersengal. Bai Lian berlutut di sampingnya. "Dahulu kala, di Lembah Kabut, ada dua anak kecil yang berjanji untuk selalu bersama. Namun, hanya satu yang bisa meraih kekuasaan. Dan aku, Xiao, selalu menginginkannya LEBIH DARIMU." "Mengapa..." "Ayahmu," bisik Bai Lian, "Dia yang membunuh keluargaku. Aku bersumpah untuk membalas dendam. Dan kau, Xiao Lan, adalah bidak yang sempurna. Kau membawaku ke istana, kau memberiku kekuasaan. Dan sekarang, kau mati, untuk menebus dosa ayahmu." Bai Lian mencabut pedangnya dan menusuk Xiao Lan. (Adegan 6: Pengungkapan) Di saat-saat terakhirnya, Xiao Lan meraih jubah Bai Lian, menariknya mendekat. "Kau salah, Lian... Ayahku... dia tidak membunuh keluargamu. Dialah yang *MELINDUNGI* mereka... dari Raja yang haus darah, ayahmu sendiri..." Mata Bai Lian membulat. Kebenaran menghantamnya seperti gelombang pasang. Dia telah dibutakan oleh kebencian, digunakan oleh ayahnya sendiri untuk menutupi kejahatannya. Xiao Lan tersenyum pahit. "Kau... telah menghancurkan segalanya..." (Adegan Terakhir) Bai Lian, ditinggalkan di tengah medan perang yang sunyi, memeluk tubuh Xiao Lan. Air matanya mengalir deras, membasahi jubah berlumuran darah itu. "Aku mengerti sekarang... **BAHWA KEBAHAGIAAN KITA SEBENARNYA ADALAH RACUN PALING MEMATIKAN.**"
You Might Also Like: Perbedaan Sunscreen Mineral Lokal Tanpa