**Doa yang Terbalik** Di taman rembulan yang abadi, di mana waktu hanyalah riak air di kolam lotus, aku menemukanmu. Bayangmu, setipis kabut pagi yang menyelimuti puncak Gunung Seribu Bintang. Wajahmu, lukisan mimpi yang dilukis oleh dewa yang sedang jatuh cinta. Cintaku padamu, *bukanlah* cinta yang tumbuh di dunia fana. Ia adalah kembang api yang meledak dalam sunyi, lukisan kaligrafi yang ditulis di atas angin, melodi seruling bambu yang hanya terdengar di *dimensi* lain. Setiap senyummu adalah sepotong surga yang jatuh ke bumi. Setiap tatapanmu adalah sungai bintang yang mengalir ke dalam jiwaku. Namun, surga dan bintang-bintang itu terlalu indah untukku. Aku, hanyalah debu yang berputar dalam pusaran takdir. Maka, aku berdoa. Aku berlutut di hadapan altar bulan dan memohon: "Berhentilah mencintaiku. Biarkan aku menghilang dalam kegelapan. Biarkan aku menjadi *abu* yang dibawa angin." Namun, di kedalaman hatiku yang paling tersembunyi, aku *takut*. Aku takut doaku dikabulkan. Aku takut keindahan itu lenyap, seperti embun pagi yang menguap di bawah mentari. Aku takut bangun dan menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi, ilusi dari hati yang *terlalu* rindu. Aku berjalan melewati hutan bambu yang membisikkan rahasia masa lalu. Di sana, di bawah pohon sakura yang tengah meranggas, aku menemukan sebuah lukisan. Lukisan diriku dan dirimu. Kita berdiri berdampingan, tangan kita saling menggenggam, wajah kita memancarkan kebahagiaan yang *nyaris* tak tertahankan. Di bawah lukisan itu, tertulis sebuah kalimat: "Kau mencintai bayangan diriku yang kau ciptakan sendiri." **TERTEGUN**. Hatiku retak. Selama ini, aku mencintai bukan dirimu yang sebenarnya, melainkan proyeksi ideal yang kubuat dalam pikiranku. Cinta ini, ternyata, hanyalah ilusi yang kurajut sendiri. Keindahan itu, palsu. Kebahagiaan itu, fatamorgana. Dan bisikan itu datang, selembut hembusan napas: *"Dulu… kau pernah berjanji…"*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Reseller