Kisah Populer: Rahasia Yang Tak Lagi Menyakitkan



## Serpihan Hujan di Kota Kenangan Hujan menggigil di atap paviliun tua, persis seperti malam itu, lima tahun lalu. Mei Lan, dengan gaun merah marun yang sama, berdiri di bawahnya, memandang ke arah gerbang yang berderit terbuka. Cahaya lentera di tangannya nyaris padam, bergoyang lemah seolah menahan beban kenangan. Seorang pria keluar dari mobil. Wajahnya, yang dulu begitu ia cintai, kini dihiasi kerutan halus. Shen Yi. "Mei Lan," ucapnya pelan, suaranya serak. "Kau benar-benar datang." "Aku selalu menepati janji, Shen Yi," jawab Mei Lan, suaranya dingin, datar. Tidak ada kehangatan, hanya gema kehancuran. Dulu, paviliun ini adalah saksi bisu cinta mereka. Tawa, bisikan, janji sehidup semati. Kini, hanya kehampaan yang memenuhi ruang, aroma pengkhianatan yang menyengat hidung. "Aku... aku ingin meminta maaf," Shen Yi melangkah maju, bayangan tubuhnya *patah* di bawah temaram lentera. "Atas semua yang terjadi." Mei Lan tersenyum sinis. "Maaf? Kata-kata murahan yang terlambat. Kau merenggut segalanya dariku, Shen Yi. Mimpiku, masa depanku, bahkan **KEPERCAYAANKU!**" Hujan semakin deras, membasahi tanah dan menyamarkan air mata yang berusaha ia tahan. Ia teringat saat ia menemukan Shen Yi bersama wanita lain, di ranjang mereka, di rumah mereka. Luka itu masih menganga, *bernanah*. "Aku tahu, Mei Lan. Aku bersalah. Aku akan melakukan apa pun untuk menebusnya." Mei Lan tertawa hambar. "Apa pun? Kau bahkan tidak tahu apa yang kau ambil dariku." Ia mendekat, cahaya lentera menerangi wajah Shen Yi, memperlihatkan ketakutan yang tersembunyi di matanya. Lima tahun ia hidup dalam *kegelapan*, menyusun rencana, mengumpulkan kekuatan. Ia bukan lagi Mei Lan yang naif dan mencintai buta. Ia adalah Mei Lan yang baru, dibentuk oleh api dan air mata. "Kau ingat perusahaan keluargaku, Shen Yi? Perusahaan yang kau hancurkan karena *perintahnya*? Perusahaan yang membuat ayahku jatuh sakit dan akhirnya... meninggal?" Shen Yi terdiam, wajahnya pucat pasi. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak melihat bagaimana kau bekerja sama dengan Li Wei untuk menghancurkanku?" Hujan semakin mengamuk, seolah alam pun bersekongkol dalam rencana Mei Lan. "Aku membiarkanmu berpikir kau menang. Aku membiarkanmu hidup dalam kepalsuan. Aku membiarkanmu menikmati hasil *pengkhianatanmu*." Mei Lan mendekatkan lentera ke wajah Shen Yi, matanya berkilat penuh dendam. "Tapi sekarang... *waktunya membayar.*" Shen Yi mundur, ketakutan merayapi setiap sudut wajahnya. "Mei Lan, apa yang kau rencanakan?" Mei Lan tersenyum. Senyum yang *dingin*, *kejam*, dan *mematikan*. Ia membuang lentera ke tanah. Cahayanya padam. Hanya kegelapan dan hujan yang tersisa. "Kau tidak tahu, Shen Yi, bahwa selama ini... akulah yang memegang kunci semua ini."
You Might Also Like: Cerpen Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa

Post a Comment

Previous Post Next Post