SERU! Cinta Yang Tak Lagi Menyakitkan



Cinta yang Tak Lagi Menyakitkan

Lampu-lampu kota Shanghai berkedip-kedip, memantulkan cahaya dingin di wajah Xu Mei. Di balik riasan sempurna dan gaun sutra merah yang anggun, hatinya berdenyut perih. Ia menatap sampanye di tangannya, cairan emas yang terasa hambar di lidah. Dulu, ia akan berbagi senyum menular dengannya di tempat ini, diiringi alunan piano yang romantis. Dulu.

Dulu, ia percaya pada janji yang diukir di bintang-bintang. Dulu, ia merasakan hangatnya pelukan yang kini terasa beracun. Dulu, ia melihat masa depan dalam tatapan matanya.

Sekarang, hanya ada kehampaan.

Pengkhianatan. Kata itu bergaung di kepalanya seperti dentang lonceng kematian. Ia menemukannya. Bersama wanita lain. Di ranjang mereka. Tawa mesra yang seharusnya menjadi miliknya, kini menjadi cacian bisu yang merobek-robek jiwanya.

Tapi Xu Mei tidak menjerit. Ia tidak menangis. Ia tidak mengemis. Ia hanya tersenyum. Senyum palsu yang lebih mematikan dari pedang. Senyum yang menyembunyikan badai di balik ketenangan danau.

Ia memaafkannya.

Di depan publik, ia memaafkannya. Ia mengatakan bahwa semua orang berbuat kesalahan. Ia bahkan memeluknya. Pelukan dingin yang membuat pria itu bergidik tanpa sadar.

Semua orang terpukau dengan kebesaran hatinya. Mereka memuji kesabarannya. Mereka mengagumi keanggunannya. Tapi hanya Xu Mei yang tahu, di balik topeng itu, ia sedang merencanakan sebuah simfoni balas dendam yang sempurna.

Perusahaan keluarga pria itu mengalami krisis. Sahamnya jatuh. Reputasinya hancur. Proyek-proyek besar dibatalkan. Ia hanya tersenyum melihatnya. Ia tahu, semua itu adalah hasil karyanya. Sentuhan dinginnya, yang berbalut kain sutra dan permata.

Ia tidak ingin darah. Ia tidak ingin jeritan. Ia hanya ingin pria itu merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan. Kehancuran. Penyesalan abadi.

Pada malam perayaan 'kembalinya' sang pengkhianat ke pangkuan istri, Xu Mei berdiri di balkon, menatap bintang-bintang. Ia melihat pria itu, wajahnya pucat, matanya kosong. Ia tahu, ia telah menang.

Ia menarik napas dalam-dalam. Ia telah membalas dendam. Tapi rasanya… pahit.

Ia berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan pria itu dalam kehancurannya. Meninggalkan masa lalunya yang penuh luka. Meninggalkan segalanya.

Di dalam hati, ia tahu.

Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama.

You Might Also Like: Futuristic Gridiron Clash Generativ Ai

Post a Comment

Previous Post Next Post